Sepulangnya dari rumah sakit setelah melahirkan hanif, kami dapat tas yang di dalamnya ada buku Baby Diary dari Nutricia. Buku itu berisi gambar dan ruang kosong yang di isi oleh ayah atau ibu selama perkembangan pada masa bayi hingga masa balita.
Sayangnya aku nga rutin mengisinya, lantaran hanif kolik waktu jaganya lebih banyak, sehingga saat hanif tidur akupun bisa istirahat juga. Namun ada yang menarik dari buku ini. Dibagian belakang buku ada sebuah puisi dari pemenang nobel kategori puisi untuk anak, Gabriela Mistral.
Puisi ini memberikan peringatan bahwa mulai sejak Hanif lahir, dialah yang terpenting dalam hidupku di atas ambisi, cita-cita, atau keinginan apapun. Islampun mengatakan bahwa anak adalah amanah dan amalan jahiriyah yang tertinggal setelah kita tiada.
Puisi ini membuatku tersadar untuk menata kembali prioritas hidupku.
His Name is Today
“We are guilty of many errors and many
faults,
But our worst crime is abandoning the
children,
Neglecting the fountain of life.
Many of the things we need can wait,
The child cannot wait.
Right now is the time his bones are being
formed,
His blood is being made,
And his senses are being developed.
To him we cannot answer ‘tomorrow’
His name is Today.
Gabriela Mistral
Nobel Prize Winning Poet from Chile


Tidak ada komentar:
Posting Komentar